Economic Brief Jun 29, 2026

Pemantauan Harga Pangan Minggu Ke-4 Juni 2026

Pemantauan Harga Pangan Minggu Ke-4 Juni 2026

Authors

Gaffari Ramadhan

Executive Director for Economic Strategy and Policy

Co-Authors

Ahmad Adi Nugroho

Tenaga Ahli Madya

Artstein Dhimathera

Tenaga Terampil

1. Perkembangan Harga Pangan
  • Secara mingguan (WtW), harga beragam, dengan kenaikan tertinggi pada komoditas bawang putih (+1,3%), sementara hortikultura lainnya seperti cabai rawit (-6,6%), cabai merah (-5,8%), dan bawang merah (-5,4%) sudah menurun.
  • Secara bulanan (MtM), mayoritas komoditas mengalami peningkatan. Peningkatan tertinggi terjadi pada harga bawang putih (12,7%) dan bawang merah (6,5%).
  • Secara year-to-date (YtD), tekanan harga terakumulasi pada minyak goreng (curah: +9,8%; kemasan: +7,6% – 8,4%).
  • Secara tahunan (YoY), tekanan harga terbesar terjadi pada cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah masing-masing mengalami kenaikan sebesar 16,5%, 8,4%, dan 5,5%.
  • ⁠Kenaikan harga daging ayam, daging sapi dan minyak goreng yang melebihi 5% (YoY) juga perlu mendapat perhatian.

2. Faktor Utama Pendorong Pergerakan Harga
  • Dari sisi global, tekanan berasal dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi dan biaya input, meskipun harga minyak mentah mulai menurun ke kisaran USD69–70 per barel.
  • Harga minyak goreng masih terdorong oleh kenaikan harga CPO global, peningkatan permintaan dari China dan India, serta risiko penurunan pasokan akibat faktor cuaca.
  • Dari sisi domestik, risiko berasal dari pelemahan Rupiah, kenaikan biaya distribusi/logistik, serta potensi El Niño yang dapat memengaruhi produksi dan panen pangan.
  • Pada Rakor Pengendalian Inflasi Daerah Minggu IV Juni 2026, BPS melaporkan 30 provinsi mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH), dengan kenaikan tertinggi di Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara.

 

3. Perkembangan Spasial
  • Secara spasial, tekanan harga paling tinggi terjadi di Provinsi Gorontalo, khususnya bawang putih, yang meningkat 15,6% secara mingguan. Kenaikan ini dipicu keterbatasan pasokan dari luar daerah akibat gangguan distribusi, tingginya biaya logistik, dan pelemahan nilai tukar Rupiah.

4. Implikasi Kebijakan
  • Ke depan, risiko inflasi perlu diwaspadai, terutama yang dipicu oleh dinamika geopolitik global serta potensi fenomena El Niño pada 2026.
  • Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) berupaya menjaga harga peternak unggas melalui integrasi serapan program, seperti MBG dan Gerakan Pangan Murah (GPM).
  • Bapanas memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino, dengan kondisi produksi terjaga termasuk stok beras Bulog mencapai 5,17 juta ton per Juni 2026 dan realisasi penyerapan 3,2 juta ton.
  • Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan strategi tiga tahap untuk mengantisipasi dampak musim kemarau, didukung oleh distribusi sarana air sebanyak 57.303 unit pompa air, 17.400 unit irigasi perpompaan, 3.500 unit irigasi perpipaan, 3.700 unit bangunan konservasi, serta pemeliharaan Jaringan Irigasi Tersier (JIT) sebanyak 9.000 unit yang tersebar di seluruh provinsi pada tahun 2026.
  • Berdasarkan estimasi DEN, kenaikan harga pangan hingga minggu IV Juni 2026 akan menyebabkan tambahan inflasi volatile foods (VF) sekitar 1,71%, dan tambahan ke inflasi IHK sebesar 0,3%.

Share

Related Publications

View All Publications →