Economic Brief Jun 17, 2026

Perkembangan BI-Rate Juni 2026

Perkembangan BI-Rate Juni 2026

Authors

Gaffari Ramadhan

Executive Director for Economic Strategy and Policy

Co-Authors

Kurniawati Yuli Ashari

Tenaga Ahli Madya

Muhammad Haikal

Tenaga Terampil

  1. BI-Rate secara total naik 50 bps menjadi 5,75% pada Juni 2026, dengan suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,75% dan Lending Facility naik menjadi 6,50%. Kenaikan ini dilakukan untuk semakin memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dan menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% hingga 2027.
  2. Kenaikan BI-Rate berdampak pada penguatan nilai tukar Rupiah di tengah kembali masuknya aliran modal asing. Rupiah terapresiasi sekitar 0,8% MtD menjadi Rp17.738/USD pada 17 Juni 2026 dari Rp17.874/USD pada akhir Mei 2026. Penguatan Rupiah terutama didukung oleh kenaikan BI-Rate serta peningkatan daya tarik aset domestik melalui kenaikan yield. Aliran modal asing kembali masuk pada SBN dan SRBI masing-masing sebesar Rp5,0 triliun dan Rp11,7 triliun pada Juni 2026, meskipun pasar saham masih mencatatkan outflow sebesar Rp11,0 triliun.
  3. Bank Indonesia terus memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui intervensi dan penyesuaian instrumen moneter. Intervensi dilakukan melalui transaksi spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic NDF (DNDF). Cadangan devisa turun sebesar USD1,3 miliar menjadi USD144,9 miliar pada Mei 2026, atau setara 5,6 bulan impor. BI juga memperketat ketentuan pembelian valas tanpa underlying menjadi USD10.000 per bulan serta menurunkan tingkat swap lindung nilai bagi investor asing sebesar 10% untuk meningkatkan daya tarik capital inflow.
  4. Transmisi kenaikan BI-Rate mulai tercermin pada kenaikan suku bunga pasar uang, SRBI, dan yield SBN, sementara suku bunga kredit masih tetap turun. Suku bunga PUAB ON meningkat menjadi 6,34% pada 17 Juni 2026, sementara SRBI 12 bulan naik menjadi 7,59% untuk menarik inflow. Yield SBN tenor pendek juga meningkat, dengan yield SBN 1 tahun dan 2 tahun masing-masing mencapai 7,15% dan 7,06%. Namun, yield jangka panjang relatif lebih rendah seiring pelaksanaan operation twist oleh BI untuk menjaga biaya utang pemerintah tetap terkendali
  5. Kredit bank umum tumbuh meningkat menjadi 11,51% YoY pada Mei 2026, naik dari 9,98% YoY pada April 2026. Peningkatan terutama didorong oleh kredit investasi dan kredit modal kerja yang masing-masing tumbuh 21,95% YoY dan 8,09% YoY, mencerminkan masih kuatnya kebutuhan pembiayaan ekspansi usaha. Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh lebih terbatas sebesar 5,89% YoY.
  6. Likuiditas perbankan tetap memadai meskipun mulai mengalami penurunan. Rasio AL/DPK tetap tinggi sebesar 24,7% pada Mei 2026. Penempatan perbankan pada instrumen Operasi Moneter BI turun menjadi Rp762,3 triliun, sementara transaksi repo meningkat menjadi Rp356,2 triliun yang mencerminkan peningkatan kebutuhan likuiditas perbankan. BI tetap menjaga likuiditas melalui pertumbuhan uang primer, pembukaan window repo tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan, serta optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
  7. Ke depan, kebijakan moneter diprakirakan tetap pro-stability di tengah meningkatnya ketidakpastian global. BI diprakirakan tetap fokus menjaga stabilitas Rupiah melalui suku bunga kebijakan, intervensi valas, dan instrumen moneter untuk mempertahankan interest rate differential yang menarik bagi investor asing. Di sisi lain, kebijakan makroprudensial tetap diarahkan pro-growth untuk menjaga pertumbuhan kredit dan mendukung aktivitas ekonomi.
  8. Inflasi tetap terjaga dalam rentang target di tengah kenaikan BI-Rate. Inflasi IHK tercatat 3,08% YoY pada Mei 2026, meningkat dari 2,42% YoY pada April 2026, namun masih berada dalam kisaran target 2,5±1%. Kenaikan terutama dipengaruhi inflasi volatile food dan administered prices seiring kenaikan harga pangan dan penyesuaian harga energi serta tarif angkutan udara. Apresiasi Rupiah diharapkan menahan imported inflation, dengan Exchange Rate Pass-Through (ERPT) yang relatif rendah (depresiasi 1% berdampak +0,11 pp pada inflasi IHK).
  9. Bank sentral global cenderung lebih hawkish di tengah meningkatnya tekanan inflasi. The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% pada FOMC Juni 2026, namun dot plot mengindikasikan potensi kenaikan FFR sebesar 25 bps hingga akhir 2026. Selain itu, Bangko Sentral ng Pilipinas, Bank of Japan, dan European Central Bank masing-masing telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps pada Juni 2026.

Share

Related Publications

View All Publications →