1. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) turun menjadi 2,42% YoY pada April 2026 dari 3,48% YoY pada bulan sebelumnya, dan berada pada rentang target 2,5%±1%.
2. Turunnya inflasi pada April disebabkan efek diskon tarif listrik yang ternormalisasi, meredanya faktor musiman dari penurunan permintaan pasca HBKN Idulfitri, serta menurunnya harga emas perhiasan.
• Inflasi komponen harga diatur Pemerintah (Administered Price (AP)) turun menjadi 1,53% YoY dari 6,08% YoY akibat normalisasi efek diskon tarif listrik pelanggan rumah tangga pada awal 2025.
• Inflasi komponen bergejolak (Volatile Food (VF)) turun menjadi 3,37% YoY dari 4,24% YoY seiring meredanya permintaan bahan makanan pasca periode HBKN Idulfitri.
• Inflasi inti (Core) sedikit turun menjadi 2,44% YoY dari 2,52% YoY, disebabkan oleh penurunan harga emas perhiasan. Inflasi inti tanpa emas perhiasan masih rendah sekitar 1,4% YoY, mencerminkan tekanan inflasi dari sisi permintaan masih terbatas.
3. Secara spasial, seluruh provinsi mengalami inflasi, tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat.
• Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat, sebesar 5,0% YoY, dengan inflasi bulanan yang meningkat menjadi sebesar 2,0% MtM.
• Tingginya inflasi di Papua Barat dipengaruhi kenaikan tarif transportasi, khususnya angkutan udara dan laut.
4. Ke depan, kenaikan harga minyak global, komoditas dunia, serta musim kemarau lebih panjang akibat El-Nino perlu diantisipasi dampaknya terhadap inflasi.
• Kenaikan harga pupuk urea global mulai mereda meski masih tinggi, serta kenaikan harga bahan baku plastik yang mulai berdampak pada kenaikan harga barang dalam kemasan.
• Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai level tertinggi dan memadai hingga April 2026 (5 juta ton), dan sejumlah komoditas pangan strategis berada dalam kondisi surplus hingga Juni 2026.
• Bank Indonesia diprakirakan masih akan tetap mempertahankan BI-Rate pada Mei 2026 di tengah risiko tekanan nilai tukar dan menjaga agar inflasi sesuai sasaran 2,5%±1%.