Background
Ringkasan Ekonomi May 05, 2026

Perkembangan Inflasi April 2026

Author

Gaffari Ramadhan

Direktur Eksekutif Bidang Strategi dan Kebijakan Ekonomi

Co-Author

Ahmad Adi Nugroho

Tenaga Ahli Madya

Sevi Tyas Murti Vinastya

Tenaga Ahli Muda

Farhannur

1.⁠ ⁠Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) turun menjadi 2,42% YoY pada April 2026 dari 3,48% YoY pada bulan sebelumnya, dan berada pada rentang target 2,5%±1%.

2.⁠ ⁠Turunnya inflasi pada April disebabkan efek diskon tarif listrik yang ternormalisasi, meredanya faktor musiman dari penurunan permintaan pasca HBKN Idulfitri, serta menurunnya harga emas perhiasan.
•⁠  ⁠Inflasi komponen harga diatur Pemerintah (Administered Price (AP)) turun menjadi 1,53% YoY dari 6,08% YoY akibat normalisasi efek diskon tarif listrik pelanggan rumah tangga pada awal 2025.
•⁠  ⁠⁠⁠Inflasi komponen bergejolak (Volatile Food (VF)) turun menjadi 3,37% YoY dari 4,24% YoY seiring meredanya permintaan bahan makanan pasca periode HBKN Idulfitri.
•⁠  ⁠⁠Inflasi inti (Core) sedikit turun menjadi 2,44% YoY dari 2,52% YoY, disebabkan oleh penurunan harga emas perhiasan. Inflasi inti tanpa emas perhiasan masih rendah sekitar 1,4% YoY, mencerminkan tekanan inflasi dari sisi permintaan masih terbatas.

3.⁠ ⁠Secara spasial, seluruh provinsi mengalami inflasi, tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat.
•⁠  ⁠⁠Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat, sebesar 5,0% YoY, dengan inflasi bulanan yang meningkat menjadi sebesar 2,0% MtM.
•⁠  ⁠⁠⁠Tingginya inflasi di Papua Barat dipengaruhi kenaikan tarif transportasi, khususnya angkutan udara dan laut. 

4.⁠ ⁠Ke depan, kenaikan harga minyak global, komoditas dunia, serta musim kemarau lebih panjang akibat El-Nino perlu diantisipasi dampaknya terhadap inflasi.
•⁠  ⁠Kenaikan harga pupuk urea global mulai mereda meski masih tinggi, serta kenaikan harga bahan baku plastik yang mulai berdampak pada kenaikan harga barang dalam kemasan.
•⁠  ⁠⁠Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai level tertinggi dan memadai hingga April 2026 (5 juta ton), dan sejumlah komoditas pangan strategis berada dalam kondisi surplus hingga Juni 2026.
•⁠  ⁠Bank Indonesia diprakirakan masih akan tetap mempertahankan BI-Rate pada Mei 2026 di tengah risiko tekanan nilai tukar dan menjaga agar inflasi sesuai sasaran 2,5%±1%.

Bagikan