1. Perkembangan Harga Pangan
- Secara bulanan (MtM), harga aneka cabai masih tinggi meski mulai melandai secara mingguan. Harga cabai merah dan cabai rawit masing-masing meningkat 24,1% dan 8,5% MtM, tetapi turun 2,4% WtW dan 3,0% WtW. Meski demikian, perlambatan belum merata ke seluruh daerah. BPS mencatat kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang didominasi oleh cabai merah dan cabai rawit pada Minggu IV Oktober 2026. Kenaikan IPH cabai merah dan beras masing-masing meluas ke 327 dan 138 kabupaten/kota, sementara cabai rawit bertahan di 269 kabupaten/kota.
- Secara tahunan (YoY), tekanan harga tertinggi terjadi pada cabai rawit (127,1% YoY) dan cabai merah (53,1% YoY). Disparitas harga sangat lebar, harga tertinggi terkonsentrasi di wilayah yang bergantung pada pengiriman antarpulau.Selain akibat gangguan produksi, tekanan harga cabai juga didorong oleh biaya logistik dan durasi distribusi ke daerah non-sentra.
- Kenaikan harga daging ayam ras mulai mereda. Rata-rata harga daging ayam kini berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) menjadi Rp39.850/kg, tetapi masih naik 2,8% YoY. Terkait harga pakan, perkembangan harga jagung di tingkat peternak mencapai Rp7.256/kg atau 25,1% di atas HAP yang menyebabkan penurunan marjin di tingkat peternak. Jika tekanan marjin mengurangi produksi, harga ayam berpotensi berbalik naik saat permintaan meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru.
- Harga daging sapi relatif stabil dan tinggi di Rp148.350/kg (8,0% YoY atau -0,3% WtW).
- Kenaikan harga minyak goreng mencapai sebesar 9,0% YoY. Ruang penurunan harga minyak goreng semakin sempit dengan kenaikan harga CPO sebesar 13,5% YoY. Selain itu, kebutuhan domestik untuk program mandatory biodiesel B50 turut menahan penurunan harga. Di sisi lain, harga gula mulai perlu dipantau karena harganya 7,68% di atas HAP dan kenaikan IPH meluas ke 103 kabupaten/kota. Sebaliknya, penurunan harga bawang merah dan telur ayam menjadi penahan inflasi, masing-masing terkontraksi 12,8% YoY dan 6,8% YoY.
2. Faktor Utama Pendorong Pergerakan Harga
- Dari sisi global, harga minyak mentah Brent naik 6,2% WtW menjadi USD116,7 per barel pada 23 Oktober 2026. Kenaikan didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan setelah serangan Houthi terhadap Arab Saudi.
- Dari sisi domestik, BMKG menyatakan El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih bertahan. Oleh karena itu, hanya 7,6% wilayah diperkirakan masuk musim hujan pada Oktober, sementara sebagian besar pada November-Desember. Kemarau yang lebih panjang menghambat pemulihan produksi hortikultura serta menahan penurunan biaya logistik.
- Karhutla menambah risiko inflasi, di mana BNPB mencatat 13.910 titik panas dengan luas kebakaran sekitar 25.409 ha hingga 24 Oktober 2026, terpusat di Kalimantan Tengah (8.049 titik). Asap dari karhutla berpotensi mengganggu produksi hortikultura dan disrupsi rantai pasok di wilayah yang terdampak.
3. Implikasi Kebijakan
- Bapanas menetapkan beras premium zona 2 dan 3, jagung di tingkat peternak, dan cabai rawit merah sebagai komoditas yang harus diintervensi. Realisasi anggaran Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) mencapai 70,03% sedangkan volumenya 338,8 ton (37,65% dari target). Selisih tersebut mengindikasikan biaya distribusi lebih tinggi dari rencana, antara lain kenaikan biaya pengiriman tiga ton cabai rawit dari Probolinggo ke Manado melalui angkutan udara. Gerakan Pangan Murah (GPM) telah digelar 11.822 kali dan dijadwalkan di 140 lokasi pada periode 25-31 Oktober 2026 dan terkonsentrasi di Sulsel (72 titik).
- Penyaluran SPHP beras periode 1 Okt-20 Nov 2026 mencapai 51,5% dari target tambahan atau 103 ribu ton per 23 Oktober 2026, dan stok beras Bulog mencapai 4,56 juta ton. Sebagian bantuan pangan beras Okt-Des belum tersalur karena menunggu administrasi anggaran dan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Kemensos. Pada komoditas jagung, realisasi SPHP baru 51,3% dari target gabungan atau 200,8 ribu ton dengan tenggat 20 Nov 2026.
- Berdasarkan estimasi DEN, inflasi harga bergejolak (VF) Okt 2026 diprakirakan naik sekitar 2,4 poin persentase (pp), dengan peningkatan inflasi IHK sekitar 0,4 pp. Andil terbesar berasal dari cabai rawit, daging ayam ras, beras, dan cabai merah.
Economic Brief
Oct 26, 2026
Pemantauan Harga Pangan Minggu IV Oktober 2026
Authors
Gaffari Ramadhan
Executive Director for Economic Strategy and Policy
Ahmad Adi Nugroho
Advisor
Amanda A. Joesoef
Junior Advisor
Related Publications
View All Publications →
Economic Brief
Penempatan Uang Negara Di Bank Himbara Bisa Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Kurniawati Yuli Ashari
21 Oct 2025
Economic Brief
Analisis Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV 2025 dan Keseluruhan Tahun 2025
Teresa Hutabarat
02 Dec 2025
Economic Brief
Pemulihan Kondisi Ketenagakerjaan di Tengah Tantangan Penciptaan Lapangan Kerja Berkualitas
Bertha Fania Maula
09 Mar 2026