Ringkasan Ekonomi Jul 03, 2026

Laporan Inflasi Bulan Juli 2026

Laporan Inflasi Bulan Juli 2026

Author

Gaffari Ramadhan

Direktur Eksekutif Bidang Strategi dan Kebijakan Ekonomi

Co-Author

Kurniawati Yuli Ashari

Tenaga Ahli Madya

Amanda A. Joesoef

Tenaga Ahli Muda

Artstein Dhimathera

Tenaga Terampil

1. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat menjadi 3,34% YoY pada Juni 2026 dari 3,08% YoY pada Mei 2026, masih berada pada rentang target 2,5%±1%.

2. Naiknya inflasi pada Juni terutama disebabkan kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur, masih naiknya harga emas perhiasan, serta masih tingginya harga komoditas pangan.

  • Inflasi komponen harga diatur Pemerintah (Administered Price (AP)) meningkat menjadi 3,42% YoY dari 2,07% YoY, didorong oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga. Kenaikan inflasi AP terutama sebagai dampak dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan masih tingginya harga energi global.
  • Inflasi inti (Core) sedikit meningkat menjadi 2,76% YoY dari 2,59% YoY, didorong oleh masih tingginya harga emas perhiasan dan minyak goreng sejalan dengan tren kenaikan harga komoditas global akibat tensi geopolitik Timur Tengah.
  • Inflasi komponen bergejolak (Volatile Food (VF)) turun menjadi 5,58% YoY dari 6,24% YoY, masih tertekan oleh naiknya harga distribusi dan penurunan produksi akibat cuaca buruk. Penurunan inflasi VF tertahan oleh masih tingginya harga beras, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah. Masih tingginya VF juga tercermin dari inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang masih tinggi, sebesar 4,67% YoY.

3. Secara spasial, seluruh provinsi mengalami inflasi, tertinggi terjadi di Provinsi Papua Pegunungan.

  • Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat sebesar 7,84% YoY. Inflasi di Aceh masih tinggi, tercatat sebesar 5,84% YoY.
  • Tingginya inflasi di wilayah-wilayah tersebut dipengaruhi oleh biaya distribusi yang lebih tinggi akibat penyesuaian harga BBM.

4. Ke depan, masih tingginya harga komoditas global serta potensi El Niño perlu diantisipasi dampaknya terhadap inflasi.

  • Perkiraan FAO dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan kemungkinan 80% terjadinya peristiwa El Niño selama Juni–Agustus 2026.
  • BMKG memprakirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Juli–Agustus 2026, yang berisiko menekan produksi padi dan komoditas hortikultura.

5. Sejumlah kebijakan dan antisipasi telah ditempuh Pemerintah untuk meminimalisir dampak El Nino.

  • Bank Indonesia kembali menaikkan BI-Rate menjadi 5,75% pada selama Juni 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan turut menjaga inflasi tetap dalam rentang target.
  • Bapanas memperkuat stabilisasi harga pangan melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM), mengusulkan program bantuan pangan berupa telur dan daging ayam untuk 1,45 juta penerima dengan anggaran Rp17,8 triliun, serta memastikan stok beras nasional aman hingga Mei 2027 dengan cadangan Bulog yang mencapai 5,17 juta ton.
  • Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menjalankan strategi tiga tahap antisipasi-adaptasi-mitigasi didukung puluhan ribu unit infrastruktur irigasi dan sarana air di seluruh provinsi.

Bagikan

Publikasi Terkait

Lihat Semua Publikasi →