1. Perkembangan Harga Pangan
- Secara bulanan (MtM), harga beberapa komoditas hortikultura meningkat tinggi. Harga cabai rawit dan cabai merah masing-masing meningkat sebesar 29,2% MtM dan 10,7% MtM. Peningkatan harga cabai terjadi karena pasokan berkurang, diakibatkan cuaca yang buruk dan tanaman terserang hama.
- Sementara, harga bawang merah turun sebesar 6,0% MtM dan bawang putih turun 5,7% MtM. Penurunan harga bawang merah disebabkan oleh panen di beberapa sentra produksi.
- Secara tahunan (YoY), tekanan harga tertinggi terjadi pada cabai rawit dan cabai merah. Harga cabai rawit (45,7% YoY) dan cabai merah (21,3% YoY) mencatat peningkatan tertinggi. Cabai rawit dan cabai merah masing-masing mencatat sebanyak 182 & 170 Kabupaten/Kota yang mengalami kenaikan IPH, meningkat dari 155 dan 168 pada minggu sebelumnya.
- Di sisi lain, harga daging ayam ras juga meningkat sebesar 16,8% YoY, masih didorong oleh peningkatan permintaan dari program MBG.
- Harga minyak goreng meningkat sebesar 9,0% YoY, didorong oleh masih tingginya harga CPO global sebesar 13,6% YoY.
- Sementara, harga daging sapi tercatat meningkat sebesar 8,1% YoY. Bapanas telah melaksanakan intervensi stabilisasi pangan tingkat Produsen dengan melakukan penyesuaian HAP menjadi Rp59.950/KgBH (Bobot Hidup), meningkat dari Rp56.575/Kg
2. Faktor Utama Pendorong Pergerakan Harga
- Dari sisi global, harga minyak mentah menurun ke USD 83 per barel pada tanggal 28 Agustus 2026, seiring munculnya tanda-tanda kemajuan diplomatik di Timur Tengah dan prospek pasokan yang membaik melalui Selat Hormuz.
- Dari sisi domestik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan El Nino yang semakin kuat di tengah musim kemarau memperluas ancaman kekeringan di Indonesia.
- Ikhtisar Pemantauan dan Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan untuk tanggal 31 Agustus – 06 September 2026, Fire Weather Index (FWI) menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan terjadi di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.
- Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), El Niño telah mulai terjadi dan diprediksi menguat hingga 2027, berpotensi memecahkan rekor. Dampaknya terbukti dari menurunnya hasil sereal di Maroko (43%), produktivitas buah di Pakistan (50%), serta tangkapan ikan di Peru (50%) yang memicu kenaikan harga pangan global.
3. Implikasi Kebijakan
- Bapanas menyiapkan mitigasi menghadapi El Nino dengan penguatan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). CBP mencapai 5,1 juta ton per 25 Agustus 2026 guna menghadapi El Nino kuat yang diproyeksikan terjadi musim kemarau yang lebih kering dan panjang pada Agustus-September 2026.
- Pemerintah tetap menjaga keseimbangan rantai pasok dan melakukan intervensi strategis melalui penggelontoran stok CBP secara nasional yang telah mencapai 1,69 juta ton per 24 Agustus melalui berbagai program, seperti Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan bencana.
- Bapanas bergerak cepat memperkuat koordinasi dengan BUMN Pangan dan asosiasi pedagang untuk menjaga stabilitas pasokan serta harga daging sapi di tingkat konsumen, sebagai respons terhadap tren kenaikan harga.
- Berdasarkan estimasi DEN, perkembangan harga pangan yang dipantau dalam laporan ini diprakirakan akan menyebabkan peningkatan inflasi volatile foods (VF) dan akan meningkatkan inflasi IHK Agustus 2026.